Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

STRATEGI PEMBELAJARAN DALAM SETTING KELAS INKLUSIF


STRATEGI PEMBELAJARAN DALAM SETTING KELAS INKLUSIF

MAKALAH

diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Inklusif
Dosen Pengampu: Drs. H. Ahmad Mulyadiprana, M.Pd.










Disusun oleh:
Kelompok 8
Risma Mutmainah
(1605791)
Dewi Niendya Ratnasari
(1605790)
Ahmad Yuniar
(1605816)
Kelas 3A-PGSD







PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
KAMPUS TASIKMALAYA
2018



KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Strategi Pembelajaran Dalam Setting Kelas Inklusif” ini pada waktunya. Walaupun hasilnya masih jauh dari apa yang menjadi harapan Bapak selaku Dosen Mata Kuliah Pendidikan iklusif. Namun sebagai awal pembelajaran dan agar menambah spirit dalam mencari pengetahuan yang luas dilapangan, bukan sebuah kesalahan jika kami mengucapkan kata syukur.
Kesalahan yang terdapat di dalam makalah ini jelas ada. Namun bukanlah kesalahan yang tersengaja, melainkan karena kekhilafan dan kelupaan dari kami selaku penyusun. Dari semua kelemahan kami, kirannya dapat dimaklumi.
Terimakasih kami ucapkan pula kepada dosen Mata Kuliah Pendidikan Inklusif beserta teman-teman yang telah memberikan banyak saran dan pengetahuannya sehingga menambah hal baru bagi kami. Terutama sumbangannya dalam hal materil berupa referensi mengenai “Strategi Pembelajaran Dalam Setting Kelas Inklusif”.
Demikian harapan kami, semoga hasil pengkajian ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Dan menambah referensi sekaligus ilmu pengetahuan yang baru pula. Amin.
Akhirnya segala kritik dan saran yang positif selalu kami harapkan untuk menambah kesempurnaan makalah ini. Semoga bermanfaat.

Tasikmalaya, 31 Oktober 2018


                                                                        Penyusun



DAFTAR ISI



 #admin  #ads  #adsense  #advertising  #affiliate  #ajax  #analytics  #api  #author  #buddypress  #button  #calendar  #categories  #category  #chat  #code  #comment  #comments  #contact  #contact  #form  #content  #css  #custom  #custom  #post  #type  #dashboard  #e-commerce #ecommerce #editor #email #embed #events #facebook #feed #form #forms #gallerygoogle #google #analytics #html #image #images #javascript #jquery #lightbox #link #links #list #login #marketing #media #menu #meta #mobile #multisite #navigation #news #newsletter #notification #page #pages #payment #payment #gateway #photo #photos #plugins #popup #post #posts #redirect #responsive #rss #search #security #seo #shareshortcode #shortcodes #sidebar #simple #slider #slideshow #social #socialmedia #spam #statistics #statstag #tags #theme #tinyMCE #tracking #twitter #url #user #users #videowidget #widgets #woocommerce #youtube #instagram #education #village #book #books #literasi #baca #tulis #membaca #menulis #kreatif #baca #komunitas #komunitasngejah #terbaru  #berita  #belajar  #berbagi  #baru



BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang


Pendidikan inkulsif merupakan sistem pelayanan pendidikan yang diberikan kepada setiap anak yang berkebutuhan khusus tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, sosial emosional, linguitik atau kondisi lainnya untuk bersama-sama mendapat pelayanan pendidikan di sekolah reguler. Sebagaimana yang ditegaskan dalam surat edaran Dirjen Dikdasmen Nomor 380 Tahun 2003 yang isinya menyatakan bahwa pendidikan inklusif merupakan pendidikan yang mengikutsertakan anak-anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama-sama dengan anak normal lainnya (Sugirman, 2006).

Dalam lingkungan sekolah inklusif, anak bekebutuhan khusus tidak mendaapatkan atau diberikan perlakuan khusus ataupun hak-hak istimewa, melainkan semua anak di berikan persamaan hak dan kewajiban yang sama tanpa terkecuali. Saat ini Indonesia dapat di promosikan sebagai laboratorium pendidikan inklusif. Hal ini dilatarbelakangi oleh keberagaman budaya, bahasa, agama dan kondisi alam yang terfragmentasi secara geologis dan geografis (Hidayat, 2009).

Pendidikan Inklusif tidak hanya ditunjukkan untuk anak-anak cacat atau ketunaan, melainkan bagi anak-anak yang menjadi korban HIV-AIDS, anak-anak yang berada dalam strata ekonomi rendah, anak-anak jalanan, anak-anak yang tinggal di daerah perbatasan dan atau pulau terpencil serta anak-anak korban bencana alam. Dari semua anak-anak tersebut, layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya sangatlah diperlukan. Maka tak heran jika saat ini pendidikan iklusif sedang gencar-gencarnya di gerakkan. Oleh karena itu, dalam menerapkan pembelajaran inklusif perlu adanya strategi khusus yang ditrapkan.

Selain itu, untuk menangani anak-anak inklusif tersebut tentunya memerlukan setting kelas inklusif secara khusus. Dalam hal ini ada empat strategi pokok yang diterapkan pemerintah untuk menunjang sekolah berbasis inklusif diantaranya ada undang-undang yang menyatakan jaminan kepada setiap warga negara Indonesia untuk memperoleh layanan pendidikan; memasukkan akses fleksibilitas dan aksebilitas ke dalam sistem pendidikan; menerapkan pendidikan berbasis teknologi, informasi dan komunikasi (TIK); dan menenkan terhadap pengoptimalkan potensi guru atau pendidik.




B.     Rumusan Masalah


Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat ditentukan permasalahan-permaslahan dalam penerapan pembelajaran inklusif, diantaranya:
1.      Bagaimana desain pembelajaran pendidikan inklusif?
2.      Bagaimana profil pembelajaran di sekolah inklusif?
3.      Bagaimana setting kelas di sekolah inklusif?
4.      Bagaimana strategi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus?


C.    Tujuan Penulisan Makalah


Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat ditentukan tujuan dari penulisan makalah ini, diantaranya:
1.      Mengetahui desain pembelajaran pendidikan inklusif.
2.      Mengetahui profil pembelajaran di sekolah inklusif.
3.      Mengetahui mengenai setting kelas dalam sekolah inklusif.
4.      Memahami strategi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus.

D.    Metode Penulisan Makalah

Metode penulisan dalam penyelesaian penyususnan makalah ini menggunakan metode studi literatur yaitu buku yang berkaitan dengan pembahasan materi makalah ini dan media sosial di internet yang masih ada hubungannya dengan materi yang dibahas.


BAB II

PEMBAHASAN


A.    Desain Pembelajaran Pendidikan Inklusif


Sekolah inklusif merupakan salah satu bentuk pemerataan dan bentuk perwujudan pendidikan tanpa adanya diskriminasi, dimana anak berkebutuhan khusus dan anak-anak pada umumnya dapat memperoleh pendidikan yang sama. Pendidikan inklusif merupakan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang mensyaratkan agar semua anak berkebutuhan khusus dapat menerima pendidikan yang setara di kelas biasa bersama anak-anak yang lainnya.

Dalam pelaksanaannya, tentunya perlu ssebuah desai pembelajaran. Dimana desain pembelajaran ini merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas (Sunanto & Hidayat, 2016).

Sistem dalam desain pembelajaran ini terbagi menjadi dua gologan, yaitu desain pembelajaran sebagai sistem dan desain pembelajaran sebagai proses.
1.      Desain pembelajaran sebagai sistem, merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar.
2.      Desain pembelajaran sebagai proses, merupakan pengembangan pembelajaran secara sistematis yang digunakan secara khusus berdasarkan teori-teori pembelajaran untuk menjamin kualitas pembelajaran (Sagala, 2010). Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat diartikan bahwa desain dalam proses pembelajaran harus sesuai dengan konsep pendidikan dan pembelajaran yang dianut dalam kurikulum yang digunakan.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disipulkan bahwa desain pembelajaran adalah rancangan keseluruhan atau prosedur pembelajaran sistematis yang lebih memperhatikan pemahaman, pengubahan dan penerapan metode-metode pembelajaran. Selain itu, desain pembelajaran inklusif merupakan desain pembelajaran yang di dalamnya memiliki sifat inklusif, yaitu adanya upaya untuk mengakomodasi atau menyediakan semua kebutuhan serta hambatan belajar yang timbul dari peserta didik yang beragam. Oleh sebab ittu, seorang guru bertugas untuk memilih dan menentukan strategi apa yang akan diterapkan untuk mempermudah penyampaian bahan ajar sehingga siswa mudah meneima apa yang disampaikan guru.


Dalam pendidian inklusif ada beberapa konep yang dikembangkan, yaitu konsep mengenai anak, konsep mengenai sistem pendidikan atau sekolah, konsep tentang keberagaman dan diskrimasi serta konsep tentang sumber daya (Sunanto & Hidayat, 2016).
1.      Konsep tentang Anak
Konsep ini merupakan pandangan pendidikan inklusif mengenai anak yang meliputi:
a.       Semua anak berhak memperoleh pendidikan;
b.      Semua anak dapat belajar;
c.       Semua anak membutuhkan dukungan dalam belajar;
d.      Pembelajaran berpusat pada anak dan menguntungkan semua anak.
2.      Konsep tentang Sistem Pendidikan atau Sekolah
Konsep ini memandang bahwa pendidikan inklusif ini meliputi beberapa faktor berikut, diantaranya:
a.       Pendidikan lebih luas daripada pendidikan formal di sekolah;
b.      Sekolah harus fleksibel dan responsif;
c.       Lingkungan pendidikan atau sekolah ramah terhadap anak;
d.      Sistem pendidikan atau sekolah mengakomodasi atau menyesuaikan pada anak bukan anak yang menyesuaikan pada sistem;
e.       Menekankan kolaboratif daripada kompetitif.
3.      Konsep tentang Keeragaman dan diskriminasi
Pendidikan inklusif itu meliputi:
a.       Menghilangkan deskriminasi dan pengucilan;
b.      Memandang keragaman sebagai kekayaan dan bukan masalah;
c.       Menyiapkan siswa menjadi toleran dan menghargai perbedaan.
4.      Konsep tentang Sumber Daya
Dalam konsep ini, pembelajaran inklusif memanfaatkan sumber daya dengan cara sebegai berikut:
a.       Memanfaatkan sumber daya lokal;
b.      Mendistribusikan sumber daya;
c.       Memandang manusia sebagai sumber daya kunci;
d.      Sumber daya yang tepat di sekolah dan masyarakat dibutuhkan untuk anak-anak yang berbeda.

B.     Profil Pembelajaran di Sekolah Inklusif


Budiyanto (2005:157), dalam Fitria (2012, hlm 92-93) mengemukakan lima profil pembelajaran di kelas inklusif yaitu:
a)      Pendidikan inklusi menciptakan dan menjaga komonitas kelas yang hangat, menerima keanekaragaman dan menghargai perbedaan.
b)      Pendididkan inklusi berarti penerapan kurikulum yang multi level dan multi modalitas.
c)      Pendidikan inklusi berarti menyiapkan dan mendorong guru untuk mengajar secara interaktif.
d)      Pendidikan inklusi berarti menyediakan dorongan bagi guru dan kelasnya secara terus menerus dan penghapusan hambatan yang berkaitan dengan isolasi profesi.
e)      Pendidikan inklusi berarti melibatkan orang tua secara bermakna dalam proses perencanaan.

C.    Setting Kelas di Sekolah Inklusif


Lingkungan fisik kelas yang baik adalah ruangan kelas yang menarik, efektif, serta mendukung peserta didik dan pendidik dalam proses belajar-mengajar. Kelas yang tidak ditata dengan baik akan menjadi penghambat bagi peserta diidk dan pendidik dalam proses belajarnya. Agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik, pendidik harus menata tempat duduk dan barang-barang yang ada di ruangan kelas sehingga dapat mendukung dan memperlancar proses pembelajaran.

Dalam mengatur tempat duduk yang penting adalah memungkinkan terjadinya tatap muka. Dengan posisi seperti itu, pendidik sekaligus dapat mengontrol tingkah laku peserta didiknya.

Untuk kelas anak yang berkebutuhan khusus diperlukan tata ruang tersendiri untuk kelas yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mengembangkan pelajaran yang akan anak terima. Dengan tata ruang yang sesuai dengan apa yang anak itu alami, maka anak tersebut akan merasa nyaman ketika proses belajar berlangsung.
Pada dasarnya penempatan siswa di kelas harus memenuhi prinsip-prinsip, diantaranya yaitu: peserta didik tidak melulu menempati tempat duduk yang itu-itu saja selama satu semester misalnya, tetapi harus ada perubahan. Ank yang lebih pendek, mempunyai kekurangan dalam pandangan, kurang pendengarannya diutamakan duduk di paling depan. Anak yang sering membuat kegaduhan, suka mengganggu temannya dijauhkan dengan anak yang sejenis itu dan jangan ditempatkan terlalu jauh dari guru. Siswa yang merenung, melamun, kurang memperhatikan penjelasan guru jangan ditempatkan terlalu dibelakang.

Berikut ini beberapa alternatif dalam mendesain tata ruang khususnya desain bangku dan meja yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik diantaranya:
1.      Meja
Meja adalah salah satu bagian prasarana dalam sekolah. Seperti yang diungkapakan Patina Harahap, Listiani Nurul Huda, Sugih Arto Pujangkoro (2013) dalam Atin, dkk (2018) meja merupakan salah satu fasilitas sekolah berupa permukaan datar yang disokong oleh beberapa kaki dan ada yang memiliki laci. Namun kurangnya pengetahuan dan dana untuk membuat sarana maupun aksesbilitas yang baik mempengaruhi proses pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus. Meja belajar ini sangat dibutuhkan peserta didik guna menunjang pembelajaran yang efektif, nyaman dan aman sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan dan mencapai tujuan pembelajaran. Ketika anak-anak sedang tidak focus biasanya akan memunculkan gerak-gerik tersendiri seperti usil degan teman, memancing keramaian dikelas, duduk dengan posisi yang sakah. Jika hal ini berlanjut terus maka bisa menyebabkan gangguan perkembangan tubuhnya. Seperti:
a.       Kelainan ditulang belakang yakni kifosis, lordosis, dan skoliosis
b.      Kelainan pada mata seperti yang terjadi pada umumnya yaitu miopi atau rabun jauh. Hal ini dikarenakan posisi duduk mempengaruhi jarak pandang mata dengan objek.
c.       Kondisi tubuh menjadi cepat lelah
d.      Sulitnya peserta didik untuk konsentrasi

2.      Formasi Kelas bentuk Huruf U
Formasi kelas bentuk huruf U sangat menarik dan mampu mengaktifkan para siswa, sehingga mampu membuat mereka antusias untuk mengikuti pelajaran. Dalam hal ini guru adalah orang yang paling aktif dengan bergerak dinamis ke segala arah dan langsung berinteraksi secara langsung, sehingga siswa akan mendapatkan respon dari pendidik secara langsung.

Dengan demikian, guru bisa memantau semua siswanya (khususnya penyandang Tuna Netra dan Tuna Rungu) dan lebih cepat mengetahui setiap gerak gerik peserta didik yang membutuhkan bantuan namun malu untuk menyampaikannya.

3.      Formasi Meja Pertemuan
Formasi meja pertemuan biasanya diselenggarakan di tempat-tempat pertemuan dan seminar, baik di hotel maupun gedung pertemuan. Formasi ini dapat digunakan dengan cara membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok tersebut mempunyai meja pertemuannya sendiri-sendiri.

Dengan formasi meja pertemuan, diharapkan semua siswa bisa menjalin hubungan baik kepada semua temannya. Guru bisa membagi siswanya secara rata. Maksudnya, dalam setiap kelompok meja diisi dengan siswa pandai dan siswa biasa-biasa saja serta mereka yang memiliki kebutuhan khusus harus dikelompokkan dengan siswa normal agar mereka bisa belajar bersama dan saling membantu.

Pada penyusunan ini anak dapat berusaha mengerjakan keterampilan mereka secara bersama-sama. Atau gaya off-set, yaitu dengan sejumlah murid duduk dibangku tetapi tidak duduk berhadapan langsung. Gaya ini dilakukan ketika guru ingin menguji muridnya satu persatu dengan ketrampilan yang mereka miliki.

4.      Formasi Pengelompokan Terpisah (Breakout Groupings)
Jika ruangan kelas memungkinkan atau cukup besar, guru dapat meletakkan meja-meja dan kursi dimana kelompok kecil dapat melakukan aktifitas belajar yang dipecah menjadi beberapa tim. Guru dapat menempatkan susunan pecahan, pecahan kelompok tersebut berjauhan, sehingga tidak saling mengganggu. Tetapi, hendaknya dihindari penempatan ruangan kelompok-kelompok kecil yang terlalu jauh dari ruang kelas supaya mudah diawasi.

Dalam model formasi ini, hindari untuk menempatkan peserta didik yang sering membuat kegaduhan berada di tempat yang jauh dari jangkauan guru. Usahakan tidak menempatkan anak tersebut bersama teman dekatnya yang memungkinkan mereka berbuat gaduh. Usahakan menempatkan mereka secara acak dan membaur dengan teman-teman lain.

Begitu juga dengan penempatan anak berkebutuhan khusus. Jangan menempatkan mereka disamping jendela yang akan memecah konsentrasi mereka, atau di dekat pintu yang akan membuat mereka untuk terus menatap keluar.

5.      Formasi Lingkaran
Formasi lingkaran adalah formasi yang disusun melingkar tanpa menggunakan meja dan kursi. Formasi ini digunakan untuk melakukan pembelajaran dalam satu kelompok, dimana guru memiliki peran untuk membimbing dan mengarahkan jalannya pembelajaran tersebut.

Dengan formasi lingkaran, guru bisa memposisikan diri sebagai pembimbing yang baik dengan cara melakukan pendekatan kepada peserta didiknya. Melalui formasi ini, guru bisa memantau bagaimana gaya belajar siswanya dan lebih mudah untuk memberikan bimbingan belajar kepada mereka.

Dari beberapa alternatif pilihan posisi penempatan peserta didik, dapat disimpulkan bahwa dalam setiap formasi yang ada memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dimana penggunaannya disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan kebutuhan peserta didik. Dalam memposisikan anak yang memiliki kebutuhan khusus, guru hendaknya tidak menempatkan mereka di dekat jendela atau di samping pintu supaya tidak memecah konsentrasi belajar mereka. Begitu juga, mereka harus ditempatkan dengan teman-teman yang lainnya agar bisa membaur dan bersosialisasi dengan baik supaya rasa minder mereka terhadap kekurangan yang dimiliki bisa dihilangkan.

Selain pengaturan formasi tempat duduk, dalam menciptakan lingkungan yang nyaman, guru dan siswanya perlu melakukan kerjasama untuk mendesain kelas mereka. Misalnya dengan menempelkan poster bertemakan pendidikan karya anak-anak, menempelkan foto pahlawan di dinding kelas, maupun mengajak mereka untuk menanam tanaman di teras kelas. Dengan adanya lingkungan belajar yang nyaman, siswa akan merasa nyaman saat sedang belajar.

Selain desain ruangan belajar, dalam kegiatan pendidikan inklusi juga terdapat beberapa ruangan khusus yang sangat di perlukan, diantaranya:
1.      Ruangan bimbingan konseling, ruangan ini digunakan untuk melakukan prosess belajar mengajar ABK. Jadi, untuk mata pelakaran tertentu ABK mendapatkan pendidikan di ruangan khusus dari guru pendidikan luar biasa atau tenaga lain di bawah koordinasi guru pendidikan luar biasa.
2.      Ruang sumber, merupakan ruangan khusus yang menyediakan berbagai fasilitas untuk megatasi kesulitan-kesulitan belajar yang dihadapi ABK di kelas biasa. Di dalam ruang sumber ini juga terdapat ruang remidial dan berbagai media belajar. Aktivitas di dalam ruang sumber pada umumnya berkonsentrasi pada upaya memperbaiki keterampilan dasar seperti membaca, menulis dan berhitung.
3.      Ruangan konferensi kasus, meripakan ruang dimana digunakan sebagai tempat penanganan terhadap kasus-kasus atau masalah-masalah yang dialami anak berkebutuhan khusus. Di ruang ini, kasus yang dialami oleh ABK ditangani oleh tenaga profesional agar kasus tersebut dapat ditangani dengan benar.

D.    Strategi Pembelajaran Bagi Anak Berkebutuhan Khusus


Ada dua kelompok ABK yang ada, yaitu ada ABK temporer (sementara) dan ada ABK permanen (tetap). Yang termasuk ke dalam ABK temporer (sementara) diantaranya anak-anak yang berada di lapisan strata ekonomi rendah, anak jalanan, anak-anak korban bencana alam, anak-anak di daerah perbatasan atau pulau dan daerah terpencil serta anak-anak yang menjadi korban HIV-AIDS. Sementara itu, anak yang tergolong kedalam ABK permanen (tetap) adalah anak-anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, autis, ADHD (Attention Deficiency and hyperactivity Disorders), anak kesulitan belajar, anak berbakat dan anak yang sangat cerdas.

Untuk menangani ABK dalam setting pendidikan inklusi di Indonesia, tentu perlu adanya strategi khusus yang digunakan. Nah untuk merealisasikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dari masing-masing anak, maka sebaiknya kita menggunakan strategi pembelajaran yang medasarkan pada keberagaman (differentiatio) kemampuan belajar mereka yang berbeda-beda. Strategi belajar ini dapat dilakukan dengan efektif melalui perubahan atau penyesuaian antara kemampuan belajar mereka dengan harapan atau target, alokasi waktu, penghargaan, tugas dan bantuan lain yang diberikan kepada anak.

Dalam proses layanan belajar ini bukan di dasarkan pada bentuk layanan sama rata, sama rasa dan disampaikan secara klasikal, tetapi diarahkan pada pembelajaran yang lebih demokratis dan proporsional sesuai dengan harapan dan target belajar dari masing-masing anak dan atau kelompok anak tersebut. Selain itu pula, proses belajar anak-anak tersebut tidak dipisahkan berdasarkan kelompok atau dipisahkan dari komunitasnya, melainkan mereka belajar bersama-sama dengan teman sebanyanya di dalam kelas reguler.

Jika dalam proses dan program belajarnya, anak didik di sesuaikan dengan keberagman dari setiap kelompok tersebut, maka anak dalam kelas yang sama dapat mengikuti proses belajar sesuai dengan porsinya masing-masing.

Sebelum mereka berpartisipasi dala belajar secara penuh, anak perlu meyakini bahwa mereka bisa belajar. Untuk meningkatkan dan menumbuhkan keyakinan tersebut pada setiap anak, maka mereka membutuhkan reward baik penghargaan, hadiah maupun sejenisnya.

Berikut dijelaskan mengenai beberapa strategi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus, antara lain:
1.      Strategi Pembelajaran bagi Anak Tunanetra
Beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan strategi pembelajaran antara lain sebagai berikut:
1)      Berdasarkan pengolahan pesan, dalam kategori ini ada dua strategi, yaitu strategi deduktif dan induktif.
2)      Berdasarkan pihak pengolah pesan, dalam kategori ini ada strategi pembelajaran ekspositoris dan strategi pembelajaran heuristik.
3)      Berdasarkan pengaturan guru, yaitu strategi pembelajaran dengan sseorang guru dan beregu.
4)      Berdasarkan jumlah siswa, yaitu strategi klasikal, kelompok kecil dan individual.
5)      Berdasarkan interaksi guru dan siswa, yaittu strategi tatap muka dan melalui media.

Selain ke-6 strategi di atas, dalam proses pembelajaran kita juga bisa menggunakan strategi lain yang memperhatikan kepada strategi individualisasi, kooperatif dan modifikasi perilaku.

2.      Strategi Pembelajaran bagi Anak Tunarungu
Strategi yang bisa digunakan untuk anak tunarungu antara lain sebagai berikut:
1)      Strategi deduktif
2)      Strategi induktif
3)      Strategi heiristi
4)      Strategi ekspositorik
5)      Strategi klasikal
6)      Strategi kelompok
7)      Strategi individual
8)      Strategi kooperatif, dan
9)      Strategi modifikasi perilaku.
3.      Strategi Pembelajaran bagi Anak Tunagrahita
Strategi pembelajaran anak tunagrahita ringan yang bersekolah di sekolah umum akan berbeda dengan strategi pembelajaran anak tunagrahita yang belajar di sekolah luar biasa. Strategi yang dapat digunakan dalam mengajar anak tunagrahita antara lain:
1)      Strategi pembelajaran yang di individualisasikan
2)      Strategi kooperatif
3)      Strategi modifikasi tingkah laku
4.      Strategi Pembelajaran bagi Anak Tunadaksa
Strategi yang bisa diterapkan bagi anak tunadaksa yaitu melalui pengorganisasian tempat pendidikan, diantaranya:
1)      Pendidikan integrasi (terpadu)
2)      Pendidikan segresi (terpisah)
3)      Pendidikan lingkungan belajar.
5.      Strategi Pembelajaran bagi Anak Tunalaras
Untuk memberikan layanan kepada anak tunalaras, ada beberapa model-model pendekatan yang bissa diterapkan, diantaranya:
1)      Model biogenetik
2)      Model tingkah laku
3)      Model psikodinamika
4)      Model ekologis
6.      Strategi Pembelajaran bagi Anak dengan Kesulitan Belajar
Ada beberap strategi yang bisa digunakan dalam kategori ini. Strategi tersebut dapat dilihat dan diterapkan berdasarkan golongannya dianatanya:
1)      Anak berkesulitan membaca yaitu melalui program delivery dan remidial teaching
2)      Anak berkesulitan belajar menulis yaitu melalui remidial sesuai dengan tingkat kesalahan.
3)      Anak berkesulitan belajar berhitung yaitu melalui program remidial yang sistematis sesuai dengan urutan dari tingkat konkrit, semi konkrit dan tingkat abstrak.
7.      Strategi Pembelajaran bagi Anak Berbakat
Strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak berbakat akan mendorong anak tersebut untuk terus berprestasi. Hal-hal yang harus diperhattikan dalam menentukan strategi pembelajaran adalah sebagai berikut:
1)      Pembelajar harus diwarnai dengan kecepatan dan tingkat kompleksitas.
2)      Tidak hanya megembangkan kecerdasan intelektul semata tetapi juga mengembangkan kecerdasan emosional.
3)      Berorientasi pada modifikasi proses, konten dan produk
Model-model layanan yang dapat diberikan kepada anak berbakat yaitu model layanan perkembangan kognitif-afektif, nilai, moral, kreativitas dan bidang khusus.


BAB III

PENUTUP


A.    Kesimpulan


Desain pembelajaran adalah rancangan keseluruhan atau prosedur pembelajaran sistematis yang lebih memperhatikan pemahaman, pengubahan dan penerapan metode-metode pembelajaran. Sementara itu, desain pembelajaran inklusif merupakan desain pembelajaran yang di dalamnya memiliki sifat inklusif, yaitu adanya upaya untuk mengakomodasi atau menyediakan semua kebutuhan serta hambatan belajar yang timbul dari peserta didik yang beragam. Pada nyatanya, ABK di dunia ini dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu ABK tempore dan ABK permanen. Dalam proses belajar mengajar anak inklusif, tentunya kita memerlukkan setting kelas dan pemilihan strategi pembelajaran khusus yang baik. Maka dari ittu, kita sebagai calon pendidik dituntut untuk mampu menguasai dan memahami mengenai sistem pelayanan pendidikan di Indonesia, baik pendidikan reguler maupun pendidikan inklusif.

B.     Saran


Bagi pembaca di harapkan dapat menambah sedikit wawasan yang dimiliki setelah membaca isi makalah ini dan mampu memberikan informasi kepada orang lain mengenai “Strategi Pembelajaran dalam Setting Kelas Inklusif”. Serta direkomendasikan kepada pembaca untuk memanfaatkan makalah ini dengan baik. Jadikan makalah ini sebagai referensi dalam kajian / pembuatan karya tulis lainnya.