SENSOR
Jemari ini tak kuasa tuk menahan tukikannya. Tukikan lembut di setiap tombol yang tertata rapi di depan sorotan mata. Iya, tukikan pada tombol yang lama kelamaan menjadi sebuah untaian kata. Kata yang berderai mengukir sebuah kalimat. Setiap kata dia ukir dengan penuh kepasrahan. Tak ada harapan yang ia dambakan. Sebab, tak ada penantian yang rela ditinggalkan tanpa kepastian. Ingin ku berteriak, menguntaiakan asa yang tak sempat terurai. Melontarkan emosi yang tak kuasa dibendung. Namun, semua itu tak pantas ku lakukan. Sebab, tak kan ada orang yang rela tuk menampung semua amarah ini.
Mungkin, sang waktu kan bisa menjawab. Namun, bukan ini dan bukan saat ini! Entah kapan waktu itu bisa mengobati lara hati yang tengah goyah ini. Semakin ku pendam, semakin kuat rasa itu menerka. Ingin rasanya tuk pergi meninggalkan singgasana yang tengah goyah ini. Akankan singgaan ini runtuh? Entahlah, yang jelas diri ini sedang tak mampu tuk beradu argumen dengan bayang-bayang kecemasana.