RIVIEW JURNAL
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TEMA
BERMAIN DENGAN BENDA-BENDA DI SEKITAR
Hamdu, Ghullam., Aeni, Nur &
Saepulrohmah, Asep. (2016). Media Pembelajaran. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Masalah Tema Bermain Dengan
Benda-Benda Di Sekitar. hlmn.80 – 86.
|
Abstract
|
Media pembelajaran konvensional
yang sering digunaka di SD saat ini kurang tepat. Karena masih adanya sekolah
– sekolah yang hanya menggunakannya sebagai simbol. Oleh sebab itu, peneliti
merancang sebuah medi pebelajaran yang di sebut dengan Pembelajaran Berbasis
Metode.
|
|
Introduction
|
Penelitian
berbasis masalah adalah sebuah penelittian yang bertujuan untuk
mengidentifikasi, memperoleh dan menghasilkan sebuahbentuk dan media
pembelajaran berbasis masalah. Karakteristik dari PBM ini ialah adanya
masalah autentik, fokus interdisipliner, memfasilitasi penyelidikan,
pembelajaran secara kolaborasi, dan yang terakhir ialah menghasilkan
produk/karya. Selain menyajikan masalah, media pembelajaran berbasis masalah
ini juga harus memfasilitasi siswa dalam penyelikan terhadap suatu kasus
untuk menemukan sebuah jawaban.
|
|
Literature
|
Pembelajaran berbasis masalah ini
di lakukan berasarkan kosep teori DBR. Dimana dalam proses ini dilakukan
penelitian terlebih dahuluu guna medapatkan sebuah prodak untuk di terapkan
di dunia SD. Proses penelitian ini dilakukan secara bertahap, mulai dari
pengidentifikisian prodak sampai dengan hasil yang akan di dapatkan ketika
penelitian ini selesai.
|
|
Methods
Overview
|
Metode yang
digunakan dalam jurnal penelitian ini adalah DBR (Design – Based – Reasearh).
Proses yang digunakan untuk menerapkan metode ini di bagi menjadi konsep, yaitu identifikasi dan analisis
masalah, pengembangan prototype program, uji coba dan implementasi prototype
program, dan refleksi
|
|
Result
|
Hasil dari penelitian yang
dilakukan di dalakukan dalam jurnal tersebut ialah terbentuknya sebuah media
pembelajaran berbasis masalah yang menyediakan dan memfasilitasi siswa dalam
pemecahan masalah guna mendapatkan jawaban.
|
|
Discussion and
Conclutions
|
Masih banyak sekolah yang
menggunakan media pembelajaran sebatas pengenalan simbol saja. Padahal
kebutuhan siswa terhadap benda yang nyata dalam pembelajara sangatlah
penting. Oleh sebabitu, media pembelajaran merupakan salah satu metodeyang
dapat diterapkan untuk memecahkan berbagai permasalahan yang ada di SD.
|
PENGEMBANGAN MEDIA GAYANGHETUM (GAMBAR WAYANG HEWAN
DAN TUMBUHAN) DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK TERINTEGRASI KELAS IV SD
Oktaviantil, Rizki & Wijayanto,
Agus. (2014). Mimbar Sekolah Dasar. Pengembangan
Media Gayanghetum (Gambar Wayang Hewan Dan Tumbuhan) Dalam Pembelajaran Tematik
Terintegrasi Kelas Iv Sd. 1 (1)
hlmn. 65 - 70
|
Abstract
|
Media GAYANGHETUM merupakan pengembangan
dari media wayang yang efektif untuk digunakan dalam pembelajaran. Media ini
di gunakan sebagai bentuk bentuk
kreatifitas dari pengembangan dan pemanfaatan lingkungan.
|
|
Introduction
|
Ada banyak
faktor yang dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran, diataranya
adalah faktor ligkugan dan faktor pemanfaatan media pembelajaran. Sering
sekali lingkungan sekitar terabaikan untuk dijadikan sebagai alat pendukung
pembelajaran. Padahal siswa membutuhkan hal – hal konkrit untuk belajarnya.
Media Gahanghetum merupakan salah satu rekomended buat para guru untuk
digunakan di sekolah dasar. Sebab, media ini merupkan hasil dari penelitian.
|
|
Literature
|
Media GAYANGHETUM ini di
kembangkan berdasarkan gaya belajar positif bagi siswa, yaitu lebih fokus pada
materi pembelajaran, mencintai lingkungan sekitar dan dan dapat menggunakan
benda – benda terpakai yang tersedia di lingkungan sekitar. Media GAYANGHETUM
ini sangat cocok di gunakan atau diterapkan. Sebab, media ini telah
menunjukkan range bobot presentase yang ditentukan oleh Arikunto sebesar
81%-100%. Jadi sudah terlihat baik dan efisien jika hendak di terapkan.
|
|
Methods
Overview
|
Metode penelitan
yang di gunakan di dalam jurnal ini adalah Research and Development berupa
pengembangan media pembelajaran.
|
|
Result
|
Terwujudnya Media GAYANGHETUM
serta di lengkapi oleh buku panduan penggunaan media GAYANGHETUM dan contoh
penggunaan media ini.
|
|
Discussion and
Conclutions
|
Kurangnya pemanfaatan lingkungan
dan benda terpakai di lingkungan sekitar dalam proses pembelajaran. Sehingga
siswa cenderung jenuh akan teori -
teori yang di berikan. Maka peneliti menciptkan media GAYANGHETUM yang
merupakan media pengembangan dari wayang dimana cara penggunaannya dengan
mendalang.
|
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS PENDEKATAN
SCIENTIFIC PADA SUBTEMA GAYA DAN GERAK
Iryanti, Iir., W.S, Rustono., &
Saepulrohman, Asep. (2014). Media
Pembelajaran. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Pendekatan
Scientific Pada Subtema Gaya Dan Gerak.
hlmn. 141 - 150
|
Abstract
|
Dalam kasus kali
ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Desain awal media
pembelajaran dapat mengurangi learning obstacle siswa sebesar 12,103%, dan
desain pengembangan media pembelajaran dapat mengurangi learning obstacle
siswa sebesar 16,18%.
|
|
Introduction
|
Media
pembelajaran merupakan peranan yang sangat penting dalam belajara. Sebab
media pembelajarn dapat mengantar serta merangsang bakat dan minat siswa
dalam mencapai tujuan pembelajaran.
|
|
Literature
|
Tujuan
diadakannya pendekatan ini adalah untuk mengembangkan media pembelajaran
berbasis pendekatan scientific dengan cara mengungkap learning obstacle siswa
disebabkan belum baiknya penggunaan media pembelajaran dalam proses
pembelajaran yang berguna untuk mengatasi hambatan belajar yang dialami siswa di kelas IV Sekolah Dasar yang menggunakan
kurikulum 2013.
|
|
Methods
Overview
|
Metode
penelitian yang di gunakan adalah metode Didactical
Design Research (DDS) yang terdiri atas tiga tahap, yaitu Prospektif
Analysis, Metapedadidaktik Analysis, dan Retrosfektif Analysis.
|
|
Result
|
Dari penelitian
ini di peroleh hasil beberapa learning
obstacle siswa yang disebabkan belum baiknya penggunaan media dan desain
media pembelajaran untuk mengatasi learning obstacle siswa pada subtema Gaya
dan Gerak pembelajaran kesatu.
|
|
Discussion and
Conclutions
|
Belum adanya cara untuk mengatasi
permasalahan learning obstacle yang
di sebabkan belum baiknya penggunaan media pembelajaran dalam proses
pembelajaran. Maka Pendekatan
Scientifik merupakan salah atu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi
permasalahan – permasalahan tersebut.
|
PENGEMBANGAN MEDIA MOCK - UP PADA MODELPEMBELAJARAN
LATIHAN PENELITIAN DI SEKOLAH DASAR
Nurlaila, Nisa., Hamdu, Ghullam.,
& Muliasari, Desiani N. (2016). Pengembangan
Media Mock - Up Pada Modelpembelajaran Latihan Penelitian Di Sekolah Dasar. hlmn.
85 - 93.
|
Abstract
|
Pengalaman
merupakan pembelajaran yang sangat penting bagi siswa, sebab dengan
pengalaman siswa akan merasakan pembelajaran yang lebih bermakna. Sabjek penelitian dalam kasus ini adalah
guru dan siswa kelas IV. Fakta di lapangan, media pembelajaan hanya digunakan
sebatas media praktis saja. Maka peneliti berinisiatif untuk mengembangkan
dan memodifikasi media pembelajaran.
|
|
Introduction
|
Manusia hidup
untuk belajar, dan manusia bisa belajar sejak dia bayi sampai akhir hayat.
Belajar dapat terjadi dimana saja, baik itu di lingkungan formal maupun
nonformal. Pembelajaran akan berlangsung baik jika disertai dengan perangkat
pendukung pembelajaran. Seperti halnya dengan media, yang merupakan pendukung
untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan.
|
|
Literature
|
Media merupakan
salah atu bentuk untuk menbaantu keberhailn dalam proses pembelajaran.
Penggunaan media jug harus dipilih berdasarkan beberapa kriteria, salah
satunya adalah yang dapat menarik perhatian siswa. Dengan beriringnya waktu,
mak peneliti menemukan sebuah solusi untuk mengatasi hal tersebut, yaitu
dengan mengembaangkann media pembelajaran model Mock – Up. Ada 4 langkah yang
digunakan dalam penelitin dan pengembangan model ini, diataranya identifikassi dan analisis masalah,
mengembangkan prototype, proses berulang dan refleksi.
|
|
Methods
Overview
|
Metode
penelitian yang di gunakan adalah metode Didactical
Design Research (DDS) model reeves.
|
|
Result
|
Media
pembelajaran Mock – Up
|
|
Discussion and
Conclutions
|
Masih adanya perdebatan mengenai
penggunaan media pembelajaran di SD. Maka peneliti terus mengidetifikasi
permasalahan yang terjadi sehingga tercipta sebuah modia pengembangan model
Mock – Up.
|
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN TEMATIK BERBASIS
MULTIMEDIA INTERAKTIF PADA SUBTEMA AYO CINTAI LINGKUNGAN
Sofyan, Rudi., WS., Rustono., &
Hamdu, Ghullam. (2016). Pengembangan
Media Pembelajaran Tematik Berbasis Multimedia Interaktif pada Subtema Ayo Cintai
Lingkungan. hlmn. 273 – 280.
|
Abstract
|
Media
pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi
pembelajaran yang disampaikan. Dalam pebelajaran tematik, media pembelajaran
masih jarang digunakan. Ketersediaan fasilitas TIK di sekolah biasanya sudah
legkap, namun dalam segi pemanfaatnnya masih sangat minim. Maka beranjak dari
hal itu, peneliti bermaksud untuk mengembangkan sebah media berbasis
multimedia.
|
|
Introduction
|
Penggunaan
strategi, metode dan media pembelajaran yang tepat dapat menciptakan suatu
proses pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Perencanaan tersebut dapat
dilihat dari aspek stategi, metode, bahan ajar, media pembelajaran,
ataupun aspek lain yang mendukung
proses pembelajaran.
|
|
Literature
|
Penggunaan media
dalam proses pembelajaran dinilai sangat penting. Dengan adanya media
pembelajaran, proses penyampaian materi dalam pembelajaran menjadi lebih
mudah dan terarah. Pengembangan media pembelajaran tematik berbasis
multimedia interaktif pada subtema ayo cintai lingkungan disusun berdasarkan
masalah yang ditemukan peneliti di lapangan, serta dibuat berdasarkan kajian
literatur dan hasil analisis terhadap kurikulum. Selanjutnya dirancang dalam
storyboard dan dikerjakan menggunakan software Adobe Captivate.
|
|
Methods
Overview
|
Metode
penelitian yang di gunakan adalah metode Didactical
Design Research (DDS).
|
|
Result
|
Media
pembelajaran tematik berbasis multimedia interaktif pada subtema ayo cintai
lingkungan untuk kelas IV Sekolah Dasar. Produk ini dikemas ke dalam bentuk
CD Interaktif dan dilengkapi dengan buku panduan penggunaannya.
|
|
Discussion and
Conclutions
|
Minimnya pemanfaatan fasilitas
TIK di lingungan sekolah dasar. Melihat hal tersebut, maka terciptalah sebuah
media pembelajaran berbasis multimedia
|
DEVELOPMENT AND VALIDATION OF A SOCIAL MEDIA AND
SCIENCE LEARNING SURVEY
Molla, Rachel & Nielsenb, Wendy. (2017). International Journal
Of Science Education, Part B Communication And Public Engagement. Development And Validation Of A
Social Media And Science Learning Survey. Vol. 7 (1). hlmn. 14 -
30
|
Abstract
|
Versi final dari
Media Sosial dan Survey Belajar Sains dapat digunakan oleh pendidik dan
peneliti untuk memahami bagaimana alat media sosial dapat dimanfaatkan untuk
memungkinkan belajar muncul dan menggunakan pengetahuan ini untuk membingkai
rekomendasi, dan metode untuk mengintegrasikan alat ini ke dalam kelas
lingkungan berbasis.
|
|
Introduction
|
Media sosial
merupakan salah satu cara yang dapat di gunakan untuk memudahkan suatu
pekerjaan. Banyak sekali manfaat dari media sosial. Sehingga dalam ilmu
pengetahuan sosial media sosial sering di libatkan guna mempermudah pemahaman
peserta didik dalam belajar.
|
|
Literature
|
Tujuan utama
dari penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana alat media sosial dapat
dimanfaatkan untuk media pembelajaran dan bisa digunakan di ruang kelas.
Selain itu, adanya pemanfaatan media sosial bagi siswa di ruang kela juga
dapat menambah daya dukung proses belajar siswa. Sehingga siswa akan merasa
lebih aktif dan penasaran ketika memanfaatkan media ini.
|
|
Methods
Overview
|
Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode analisis
data. Dimana dalam pengembangannya menggunakan model pendekatan induktiff.
|
|
Result
|
Dari penelitian
ini diperoleh hasil, yaitu adanya cara pemanfaatan media sosial untuk proses
belajar mengajar. Baik itu dari segi sosial maupun non sosialnya. Salah
satunya adanya forum online untuk memecahkan suatu permasalahan.
|
|
Discussion and
Conclutions
|
Adanya kebingungan mengenai cara
siswa memanfaatkan media sosial dalam proses pembelajaran. Sehingga
terwujudnya media sosial sebagai alat atau media pembelajaran di kelas
melalui forum chating dan striming.
|
EXAMINING ELEMENTARY SOCIAL STUDIES MARGINALIZATION :
A MULTILEVEL MODEL
G. Fitchett, Paul., L. Heafner, Tina
& G. Lambert, Richard. (2012). Educational Pollicy. Examining Elementary Social Studies Marginalization : A Multilevel
Model. Vol. 28 (I). hlmn. 40 – 68.
|
Abstract
|
Dalam proses penelitian ini menunjukkan
bahwa kebijakan pengujian negara merupakan prediktor yang signifikan terhadap
SD disaat guru dilaporkan untuk pengajaran ilmu sosial. Studi
ini menunjukkan bahwa kebijakan negara
memiliki dampak yang besar pada prioritas studi sosial di SD.
|
|
Introduction
|
Dalam penelitian ini, kami
memeriksa sejauh mana ukuran akuntabilitas antara negara bagian dan indikator
tingkat kelas dikaitkan dengan lamanya waktu dalam studi sosial. Hasil
menunjukkan bahwa pertemuan pengujian kebijakan, perbedaan tingkat kelas, dan
persepsi guru mengenai otonomi
meningkatkan penekanan studi sosial mengajar antara 3 sampai 5 kelas elemen-guru.
|
|
Literature
|
Mekanisme
kompleks yang berkontribusi pada prioritas studi sosial, cenderung bahwa
model Paul ini menawarkan implikasi kebijakan dan pedagogis untuk elemen ilmu pendidikan sosial. Meningkatnya waktu
yang digunakan untuk belajar di kelas bertujuan untuk pengembangan dan
analisis ilmu sosial dasar di dalam kelas.
|
|
Methods
Overview
|
Model bertingkat (Hierarchical Linear Model)
|
|
Result
|
Terwujuddnya
renana untuk keseimbangan antara mempromosikan otonomi, pendefinisian ulang
kurikuler organisasi, pemeriksaan lingkungan kelas, dan pemeliharaan arahan
di lingkungan.
|
|
Discussion and
Conclutions
|
Masih adanya kesimpang siuran
infomasi mengenai prioritas sosial study di sekolah dasar. Sehingga perlu
adanya keseimbangan antara mempromosikan otonomi, pendefinisian ulang
kurikuler organisasi, pemeriksaan lingkungan kelas, dan pemeliharaan arahan
di lingkungan.
|
SCIENCE TEACHERS’ VIEWS AND STEREOTYPES OF RELIGION,
SCIENTISTS AND SCIENTIFIC RESEARCH: A CALL FOR SCIENTIST–SCIENCE TEACHER
PARTNERSHIPS TO PROMOTE INQUIRY-BASED LEARNING
Mansour, Nasser. (2015). International
Journal of Science Education. Science Teachers’ Views and Stereotypes of
Religion, Scientists and Scientific Research: A call for scientist–science
teacher partnerships to promote inquiry-based learning. Vol. 37 (11). hlmn.
1767 – 1794.
|
Abstract
|
Penerapan praktik pembelajaran berbasis inquiri saat
ini masih tetap menjadi tantangan. Sebab model ini mendorong siswa untuk bisa
berpiki seperti halnya para ilmuwan. Dalam hal ini, kebutuhan para guru sains
untuk memeriksa ilmuwan perlu adanya faktor budaya yang
mungkin berdampak pada pandangan guru dan praktik pedagogis.
|
|
Introduction
|
Dalam penelitian
ini mengeksplorasi secara mendalam beberapa fondasi epistemologis ke pandangan
religius dan budaya logis dari guru sains sains. Studi tersebut mengemukakan
bahwa guru sains dengan pengertian yang sempit dari konsep model ilmiah
sebagai duplikasi kenyataan. Penelitian ini menunjukkan bahwa guru memegang
keyakinan epistemologis dan ontologis bahwa sains dan penemuan ilmiah harus
dipandu oleh keyakinan budaya dan agama.
|
|
Literature
|
Dalam praktik
penelitian ilmiah ini, menginformasikan praktik guru untuk menggunakan
penyelidikan sebagai pedagogi (pengajar) di kelas. Pada kasus ini menunjukkan
bahwa nilai budaya yang dimiliki oleh seorang guru mempengaruhi terhadap cara mereka mengajar sains.
|
|
Methods
Overview
|
Metode yang di terapkan dalam penelitian
ini adalah dengan menggunakan explorasi dan analisis data.
|
|
Result
|
Adanya kerjasama
antara guru dan para ilmuwan agar terjadi kesesuaian dalam menberikan
informasi pembelajaran kepada siswa.
|
|
Discussion and
Conclutions
|
Masih banyaknya guru yang terbawa
oleh kebudayaannya sendiri, sehingga memunculkan ketidak sesuaian antara
teori dengan hasil. Maka dari itu, di peroleh sebuah kesimpulam yang
menyatakan bahwa perlu adanya kerja sama antara guru dengan ilmuwan agar
terjalin suatu kesesuaian dalam pembelajaran di kelas.
|
MEDIA REPORT CARD FOR SOCIAL SCIENCE
Weiss, Carol H. (1965). Sosial
Studies. Media Report Card for Social
Science. Vol. ( ). hlmn. 30 - 48
|
Abstract
|
Sebagian orang percaya bahwa laporan ers yang
dilakukan itu merupakan informasi fakta yang akurat. Ada banyak berita
mengenai ilmu sosial yang di upload di Indonesia.
|
|
Introduction
|
Reporter dapat diartikan sebagai ilmuwan. Sebab reporter seperti halnya seorang ilmuwan yang menemukan hal baru. Mereka bekerja untuk mencari sesuatu dan memberitahukan hal itu kepada khalayak umum. Dalam hal ini, reporter kartu media merupakan bagian dari pendorong kelancaran proes pembelajaran social study. Hal ini berkaitan dengan proses mini riset yang sering dilakukan untuk anak SD.
|
|
Literature
|
Banyak sekali informasi mengenai ilmu
sosial di dalam berita media sosial. Namun, masih sedikit ilmuwan yang
percaya akan informasi yang diberikan oleh reporter dalam berita. Sehingga
masih banyak permasalahan yang di abaikan dan hanya sekedar menjadi alarm
kehidupan saja.. Padahal jika dilihat dari tingkat pendidikan dasar, berita –
berita yang disajikan oleh media masa dapat membantu terhadap kelancaran
proses pembelajaran peserta didik di lingkungan kelas.
|
|
Methods
Overview
|
Metode yang di lakukan dalam hal ini
adalah study kasus, pemecahan masalah, analysis data dan wawancara.
|
|
Result
|
Informasi
mengenai ilmu sossial disajikan dalam bentuk berita oleh reporter.
|
|
Discussion and
Conclutions
|
Banyak sekali
permasalahan sosial yang kurang ditanggapi oleh para ilmuwan, sehingga para
reporter menjadikan media masa sebagai sarana untuk menyampaikan permasalahan
tersebut dan sebagai penunjang keberlangsungan pendidikan ilmu sosial.
|
A SOCIAL
INFORMATION P ROCESSING MODEL OF MEDIA USE IN ORGANIZATIONS
Fulk,
Janet., Steinfield, Charles W., Schmitz, Joseph., & Gerard, J. (2014).
Communication Research. A Social
Information Processing Model Of Media Use In Organizations. Vo. 14 (5).
hlmn. 529 -552.
|
Abstract
|
Masyarakat merupakan makhluk sosial yang ditakdirkan
untuk hidup saling ketergantungan satu sama lain. Ada berbagai pertanyaan
yang muncul untuk meciptakan sebuah model pengelompokkan masyarakat sosial
dalam penggunaan media di sebuah organisasi. Hal ini bertujuan guna
mewujudkan suatu model pengelompokkan masyarakat dalam oganisasi media yang
sesuai dengan kondisi yang ada.
|
|
Introduction
|
Media merupakan sarana untuk menyampaikan informasi secara rinci kepada komunikan. Ada banyak manfaat media dalam perkembangan ilmu sosial. Seperti halnya dalam pemanfaatan media organisasi di lingkungan sosial masyarakat. Selain itu pula, media organisasi juga dapat di manfaatkan dalam ruang kelas. Sebab hal itu berkaitan dengan cara penyampaian materi terhadap peserta didik. Media organisasi di dalam kelas dapat membantu guru dalam mengelompokkan siswa untuk mengenalkan media pembelajara berdasarkan pengelompokkan jenis media itu sendiri.
|
|
Literature
|
Bidang media sangat
lemah dalam bidang kelembagaan apabila dibandingkan dengan bidang - bidang
profesi lainnya seperti kesehatan dan hukum, dikarenakan kesuksesannya
ditentukan oleh naik turunnya minat masyarakat atas sesuatu. Perbedaan utama
yang membuatnya tidak bisa dibandingkan dengan tingkat profesionalisme
tradisional adalah mungkin dikarenakan media sangat menghargai kebebasan,
kreativitas dan pendekatan kritikal. Sangat sulit mengidentifikasi pola dasar
profesi komunikasi massa. Dilema utamanya kemungkinan adalah kebebasan versus
aturan - aturan yang ada pada lembaga, yang sebenarnya secara ideologi
menghargai keaslian dan kebebasan, namun secara organisasional memiliki
kontrol yang mengikat.
|
|
Methods
Overview
|
Metode yang dikembangkan dalam
penelitian ini adalah analisis data. Uji coba dan wawancara yang dilakukan
terhadap beberapa pihak yang terkait.
|
|
Result
|
Hailnya adalah
adanya model pengelompokkan masyarakat sosial dalam penggunaan ilmu media
sosial
|
|
Discussion and
Conclutions
|
Terdapat beberapa tipe pendapat
dalam organisasi sosial, sehingga sering munculnya konflik – konflik dalam
media sosial yang berkesinambungan. Oleh sebab itu perlu adanya penyaringan
ekstra dalam menyampaikan berita. Sehingga konflik – konflik yang disebabkan
oleh media sosial dapat terangkul dan terkendali.
|