MENUNGGU YA MENUNGGU
“Menunggu Ya Menunggu ”
Menunggu dan
menunggu memang sesuatu yang selalu dihindari. Tak seorang pun berharap atau mau
terjebak dalam hal itu. Sungguh menyebalkan dan sangat melelahkan . Hanya bisa berteman
dengan ruang hampa nan sepi. Bercengkrama
dengan bayang - bayang untuk menghabiskan waktu. Rasa cemas dan marah seakan - akan
hendak datang menghantui. Dan akhirnya
roda zaman akan melihat siapa yang masih mampu bertahan atau meninggalkan ruang
sunyi ini. Bahkan, tembok dan dinding
pun ikut mengejek sambil becanda mempermainkan wajah masam dan otot leher yang
berurat. Pena dan kertas seakan – akan menjadi pelampiasan dari kekecewaan ini.
Menggerutu, menggeliat, dan terpuruk, itu yang dirasakan Mei waktu itu. Dia
kecewa, temannya yang akan datang ke rumahnya belum datang juga.
Sore
itu, Mei duduk gelisah di kursi teras depan . Wajahnya mengerut melihat awan yang makin mengumpal pekat. Tampaknya hujan segera
turun membasahi bumi. Tanah tempat berpijak pun menyambut girang, rerumputan
akan menari-nari dari bawah tanaman yang berserakan bagaikan parasit yang lama
menanti dahaga. Tak peduli dengan
kesalahan seorang wanita muda yang ada di antara mereka. Mereka semua hanya
mengharapkan hujan turun menyegarkan alam.
Lambat
laun angin berdesir kencang. Dinding
menyentuh kulit seperti mengajak bersitubuh. Mei makin kesal melihat alam yang
tak bersahabat dengannya. Ia tak mau temannya
tak jadi datang ke rumahnya karena kondisi alam yang tak bersahabat. Mungkin
Mei akan kecewa jika temannya memang benar – benar tak jadi datang.
Hembusan
demi hembusan angin terus berdesir, seakan – akan memeluk alam. Tetesan demi
tetesan air hujan mulai terdengar di telinga Mei. Namun, teman Mei belum juga
datang ke rumahnya. Mei makin cemas dan khawatir temannya tak jadi datang ke
rumahnya, karena waktu semakin sore.
Tiba
– tiba, telphone Mei berdering, dan Mei pun bergegas mengambilnya. Ternyata itu
adalah sebuah pesan singkat dari teman Mei yang berisi “ Mei maafin aku, kali
ini aku tak bisa jadi datang ke rumahmu ? Alam sedang tak bersahabat kali ini,
mungkin besok siang kalau alam bersahabat, aku akan ke rumahmu. Aku janji.
Besok siang aku kabarin kamu lagi ... Ok Mei ? J“
. Ternyata apa yang tak diharapkan Mei benar – benar terjadi di sore itu, teman
Mei tak jadi datang karena kondisi alam
yang tak bersahabat Mei semakin kecewa, karena dia menunggu temannya itu
telah lama, bahkan samai larut sore.
Angin semakin
bertiup kencang, seakan – akan mentertawakan Mei yang sedang menyesal. Mei pun
masuk ke dalam rumah dengan wajah terpiuk dan mengerut. Mei pun terus menyesal,
karena dia telah menunggu tanpa ada hasilnya sama sekali.
Beruntung, pada
siang esok harinya, teman Mei menepati janjinya. Teman Mei mengirim sms pada
Mei, yang beisi “ Mei sahabatku, siang ini aku akan ke rumahmu ? Sekarang aku
sudah di jalan menuju rumahmu ? Ma’af, ngabarin Meinya telat, soalnya takut
alam kembali menangis lagi sih ??? J
Tunggu aku ya ? J “ . Mei pun merasa senang, karena
temanya akan datang ke rumahnya. Seakan – akan, penyesalan yang terjadi kemarin
sore, telah terobati dengan janji teman Mei yang sekarang akan datang ke
rumahnya. Dia sangat senang, girang dan bahkan dia sampai tersenyum – senyum
sendiri. Karena penyesalan yang kemarin sore ia alami telah tergantikan oleh
suatu kesenangan di siang ini.
Teman Mei telah
tiba di rumahnya. Mereka pun becanda ria sambil sharing – sharing. Waktu pun
terus berjalan, hingga akhirnya, teman Mei pun pamit pada Mei untuk pulang,
karena hari semakin sore. Mei pun mengijinkan Susanti (teman Mei) untuk pulang.
Karena Mei sadar, Susanti sudah cukup lama berada di rumahnya. Suka duka mereka
lewati di siang itu. Sehingga, terbentuklah suatu cerita baru dan pengalaman
baru bagi mereka berdua.
Pada siang itu,
Mei merasa senang dan bahagia karena sudah bertemu dengan temannya itu.
Walaupun pada mulanya, Mei merasa kecewa karena pada sore kemarin temannya tak
jadi datang ke rumahnya.
Angin sepoy –
sepoy terasa begitu sejuk pada tubuh. Hilir mudik kicauan burung terasa begitu
menenangkan pikiran. Suara gemuruh air sungai yang terdengar merdu, terasa
begitu nikmat dirasakan. Sungguh merupakan nikmat dan karunia yang begitu luar
biasa di siang itu bagi Mei.
Risma Mutmainah