DI BALIK PENJARA KATA
Sepertinya angin segar dalam berkata-kata sedang menyerbu diri. Namun rasa malas dan tuntutan duniawi mengalahkan semua kata yang hendak terucapkan. Antara berkata-kata atau melaksanakan leran keduniawian. Lupa akan daratan sering kali terjadi, sehingga sering kali hanyut dalam derasnya ombak di lautan yang luas. Ketika raga telah terkena akan baku hantam beribu karang, barulah tersadar untuk kembali pada daratan. Namun, mencari daratan dalam sebuah hamparan laut yang luas tak begitu mudah. Perlu adanya dorongan untuk mampu mengalirkan raga pada sebuah daratan...
Emosi tak terkendali sering kali menjadi penyebab melupakan diri. Pergi dan diam kadang menjadi pilihan. Terkadang rasa sakit di hati kian menusuk, sebab mulut tak mampu ungkapkan rasa.
Ingin ungkapkan rasa. Namun masih banyak sandiwara yang belum terbenahi. Terlalu banyak skenario fiktif yang terjadi di dunia ini. Fiktif dalam novel memang asik, tapi fiktif dalam kehidupan nyata begitu tak menyenangkan. Sehingga terasa sulit tuk membedakan mana yang benar dan mana yang kurang benar, mana hak diri dan mana hak umum. Kadang diri masih ngerasa belum pantas tuk berada di titik ini. Seperti kata orang bilang, diri akan merasa insecure jika di bandingkan, dan diri akan ngerasa bangga jika mampu mencapai impian diri. Sehingga proses pembenahan diri perlu terus di lakukan meski usia tak lagi sama.
Di titik seperti ini barulah diri akan menimbulkan berbagai pertanyaan. Ko gini sih, kenapa ngga dari dulu aja, apa yang dilakuin selama ini, kenapa ngga mampu kecapai, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan sering muncul di kepala
Di saat seperti inilah diri akan merasa butuh tambahan ilmu, butuh tambahan pengalaman. Dan di saat ini pula diri saya sendiri ngerasa, kenapa ngga suka baca yang berbau ilmiah, kenapa ngga kuat lama-lama bersama teks-teks ilmiah, terlebih teks yang menggunakan bahasa asing (yang membuat diri ngga paham isi teks ke seluruhannya, bahasanya juga ngga ngerti, bagaimana caranya bisa cepat paham).
Jika di bandingkan mungkin diri ini menghabiskan sekitar 85% untuk bergabung dengan dunia fiktif, dan sisanya tentu untuk menikmati dan menggali perbekalan hidup (baik kekal maupun sementara). Jika di tanya, berapa sering saya membeli buku, yaa jawabannya jelas disaat godaan mata tak mampu terelakan. Lantas buku apa yang sering di beli, ya jelaslah buku fiksi (novel) yang sering di beli. Jika di tanya apa alasannya, saya akan jawab karena nilai kepuasannya berbeda, selain itu jika membeli buku pendidikan kadang berganti musim. Jadi lebih baik pake jurnal dibandingkan buku. Sedangkan untuk buku fiksi seolah menjadi hiburan bagi diri sendiri disaat raga tak sangup untuk di ajak berpikir dan bekerja.
Tapi tak semua buku yang saya beli buku fiksi, ada ko buku nonfiksi yang juga ikutan di beli. Mungkin perbandingannya sekitar 3:1. Mencari buku pembelajaran itu tak semudah mencari buku fiksi, yang jelas disaat tertarik untuk membeli sebuah buku itu ketika ada uang sisa yang emang ngga ada kebutuhan lain untuk di beli. Sebelum memutuskan untuk membeli sebuah buku, tentunya perlu mengeksplor ke toko buku untuk menetapkan sebuah buku yang akan di beli pada bulan tertentu..
