Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Plus Minus Kehidupan


 

Ya! Seperti sebuah debu yang kadang mudah pergi akibat hembusan angin lambat yang menerka. Kadang kala senang, tapi kadang kala benci, bukan benci sih, tapi semacam benci. Wkwkwk. Disini, dalam lembaran kertas ini ku ingin menuliskan sebuah ilusi hati dan pikiran yang kadang kala membuat jemari ini  sulit tuk berlabuh. Tapi, diri ini tak akan membuat sulit jari dan mulut tuk mengurai dan mengukir kata. Sebab diri ini tau, kata yang manis tak selamanya manis. Wkwk

Sedikit cerita dalam kisah kehidupan di muka bumi ini. Banyak sekali cerita-cerita hidup yang beredar di  luar sana. Bahkan, cerita hidup itu bisa di ketahui dari sebuah tatapan layar monitor saja. Tapi mungkin tak semua orang tau. Karena ada banyak tipe orang di muka bumi ini. Ada yang suka cerita lewat media sosial, karya atau bahkan cerita langsung kepada sanak sodaranya. Tapi, ya itulah namanya ragam dari kehidupan ini. Banyak sekali plus minus dari  kehidupan saat ini. Terlebih saat ini telah memasuki zaman milenial, dimana setiap orang lebih asik dengan dirinya sendiri, asik dengan dunia awan yang ia bentuk sendiri. Tak peduli akan dunia bumi yang ia gunakan tuk tinggal saat ini. Unik memang,  disaat banyak orang yang senang dan sedih karena dunia awan yang ia bentuk sendiri. Memang tak dapat dipungkiri, kehidupan di zaman ini sudah seperti ini. Seperti langit dan bumi. Kadang ia ada di langit dan kadang kala ia ada di bumi. Semua itu tergantung dari moodnya masing-masing. Termasuk saya, yang kadang lebih suka bermain dengan dunia keyboard seperti saat ini. Eitt, bukan keyboard alat musik  ya, tapi keyboard papan ketik. Ya! Jari ini telah terbiasa tuk bergaul dengan dunia elektrik daripada manual, sehingga jari ini kurang bersahabat saat dipadukan dengan dunia manual.

Kini, usia diriku tak lagi semuda dulu. Sehingga setiap hari, diri ini sering bergelut dengan kehidupan yang beragam. Tak datar memang, dan tak lurus. Selalu ada cekungan-cekungan kecil yang kadang mampir di tengah arus.